alumni smansa purwokerto 1993

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘renungan’

Hukum Truk Sampah

In mendoan anget on Maret 16, 2009 at 10:06 am

Suatu hari saya naik sebuah taxi dan menuju ke Bandara. Kami melaju pada jalur yang benar ketika tiba-tiba
sebuah mobil hitam melompat keluar dari tempat parkir tepat di depan kami. Supir taxi menginjak pedal rem dalam-dalam hingga ban mobil berdecit dan berhenti hanya beberapa cm dari mobil tersebut.

Pengemudi mobil hitam tersebut mengeluarkan kepalanya dan mulai meneriaki kami. Supir taxi hanya tersenyum dan melambai pada orang orang tersebut. Saya benar-benar heran dengan sikapnya yang bersahabat. Maka saya bertanya, “Mengapa anda melakukannya? Orang itu hampir merusak mobil anda dan dapat saja mengirim kita ke rumah sakit!” Saat itulah saya belajar dari supir taxi tersebut mengenai apa yang saya kemudian ia sebut “Hukum Truk Sampah”.

Ia menjelaskan bahwa banyak orang seperti truk sampah. Mereka berjalan keliling membawa sampah, seperti frustrasi, kemarahan, kekecewaan. Seiring dengan semakin penuh kapasitasnya, semakin mereka membutuhkan tempat untuk membuangnya, dan seringkali mereka membuangnya kepada anda.
Jangan ambil hati, tersenyum saja, lambaikan tangan, maafkan mereka, lalu lanjutkan hidup.

Jangan ambil sampah mereka untuk kembali membuangnya kepada orang lain yang anda temui, di tempat kerja, di rumah atau dalam perjalanan. Intinya, orang yang sukses adalah orang yang tidak membiarkan “truk sampah” mengambil alih hari-hari mereka dengan merusak suasana hati.

Hidup itu 10% mengenai apa yang kau buat dengannya dan 90% tentang bagaimana kamu menghadapinya.
Hidup bukan mengenai menunggu badai berlalu, tapi tentang bagaimana belajar menari dalam hujan.

Nikmatnya Dunia

In mendoan anget on Januari 14, 2009 at 10:20 am

Dari Noor Hidayah

Adalah seorang pemuda yang tengah berjalan- jalan ditepi hutan untuk mencari udara segar, ketika dia tengah berjalan, tiba -tiba terdengarlah bunyi auman suara harimau… Auuuummmm….!!!!! Seekor harimau yang sedang lapar dan mencari mangsa untuk mengisi perutnya dan tiba-tiba sudah berada dihadapan si pemuda.

Pemuda tadi karena takut, diapun berlari semampu dia bisa, Harimau yang sedang lapar tentunya tidak
begitu saja melepas mangsa empuk di depan matanya, harimau itupun mengejar pemuda tadi. Ditengah kepanikkannya, pemuda tadi masih sempat berdoa, agar diselamatkan dari terkaman harimau,…rupanya doanya dikabulkan, dalam pelariannya dia melihat sebuah sumur tua,..terlintas dibenaknya untuk masuk kedalam sumur itu,..karena harimau pasti tidak akan mengejarnya ikut masuk kesumur tersebut.

Beruntungnya lagi ternyata sumur tersebut ditengahnya ada tali menjulur ke bawah, jadi pemuda tadi tidak harus melompat yang mungkin saja bisa membuat kakinya patah karena dalamnya sumur tersebut. Tapi ternyata tali itu pendek dan takkan sanggup membantu dia sampai kedasar sumur, hingga akhirnya dia bergelayut ditengah-tengah sumur, ketika tengah bergelayut dia menengadahkan mukanya keatas ternyata harimau tadi masih menunggunya dibibir sumur, dan ketika dia menunduk kebawah, terdengar suara kecipak air,..setelah diamati ternyata ada 2 ekor buaya yang ganas yang berusaha menggapai badannya,.

Ya Allah bagaimana ini, diatas aku ditunggu harimau, dibawah buaya siap menerkamku, ketika dia tengah berpikir caranya keluar, tiba-tiba dari pinggir sumur yang ada lobangnya keluarlah seekor tikus putih ..ciiit…ciiit… ….ciit…yang naik meniti tali pemuda tadi dan mulai menggerogoti tali pemuda tadi,..belum hilang keterkejutannya dari lobang satunya lagi muncul seekor tikus hitam yang melakukan hal sama seperti tikus putih menggerogoti tali yang dipakai pemuda tuk bergelantungan. Waduh …jika tali ini putus, .habislah riwayatku dimakan buaya..!!! cemas dia berpikir,…jika aku naik keatas ….sudah pasti harimau menerkamku,. ..jika menunggu disini…lama-lama tali ini akan putus dan buaya dibawah siap menyongsongku… saat itulah dia mendengar dengungan rombongan lebah yang sedang mengangkut madu untuk dibawa kesarang
mereka,..dia mendongakkan wajahnya keatas..dan tiba-tiba jatuhlah setetes madu dari lebah itu langsung tertelan ke mulut pemuda tadi.

Spontan pemuda tadi berkata…Subhanallah ..Alangkah manisnya madu ini,..baru sekali ini aku merasakan madu semanis dan selezat ini…!!! Dia lupa akan ancaman buaya dan harimau tadi.

Tahukah kamu, inti dari cerita diatas…???
Pemuda tadi adalah kita semua, harimau yang mengejar adalah maut kita, ajal memang selalu mengejar kita. Jadi ingatlah akan mati.
Dua ekor buaya adalah malaikat munkar dan nakir yang menunggu kita di alam kubur kita nantinya.
Tali tempat pemuda bergelayut adalah panjang umur kita,..jika talinya panjang maka pendeklah umur kita, jika talinya pendek maka panjanglah umur kita.
Tikus putih dan tikus hitam adalah dunia kita siang dan juga malam yang senantiasa mengikis umur kita. Diibaratkan di cerita tadi tikus yang menggerogoti tali pemuda.
Madu setetes adalah nikmat dunia yang hanya sebentar. Bayangkan madu setetes tadi masuk ke mulut pemuda,…sampai dia lupa akan ancaman harimau dan buaya,..begitulah kita, ketika kita menerima nikmat sedikit, kita lupa kepada Allah. Ketika susah baru ingat kepada Allah.. Astaghfirullah

1 menit untuk mengingat Allah

Sebutlah dengan sepenuh hati dan lidah yang fasih akan:
*SUBHANA’LLAH
*ALHAMDULI’LLAH
*LA I LAHA ILLA’LLAH
*ALLAHU AKBAR
*ASTAGHFIRU’ LLAH
*LA ILAH ILLA’LLAH, MUHAMMADUN RASULU’LLAH
*ALLAHUMMA SHOLLI ALA WA SALLIM WABARIK ALA SAYYEDINA MUHAMMAD *WA AALIHI WA SAHBIHI AJMA’EEN

Mampukan Kita Mencintai Istri Kita Tanpa Syarat?

In mendoan anget on Juli 9, 2008 at 9:03 am

Dari Boim Deddy

Ini cerita Nyata, beliau adalah Bp. Eko Pratomo, Direktur Fortis Asset Management yg sangat terkenal di kalangan Pasar Modal dan Investment, beliau juga sangat sukses dlm memajukan industri Reksadana di Indonesia ..

Apa yg diutarakan beliau adalah Sangat Benar sekali.

*MAMPUKAH KITA MENCINTAI TANPA SYARAT*
sebuah perenungan

Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja bahkan sudah mendekati malam, Pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua, mereka menikah sudah lebih 32 tahun.
Mereka dikarunia 4 orang anak disinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak ke empat tiba2 kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.
Setiap hari pak suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian.
Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum, untunglah tempat usaha pak suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa2 saja yg dia alami seharian.
Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.
Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka, sekarang anak2 mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yg masih kuliah.
Pada suatu hari ke empat anak suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masing2 dan Pak Suyatno memutuskan ibu mereka dia yg merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil.
Dengan kalimat yg cukup hati2 anak yg sulung berkata “Pak kami ingin sekali merawat ibu semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak……. …bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu” . dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata2nya “sudah yg keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian”.
Pak Suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2 mereka. “Anak2ku ……… Jikalau perkawinan & hidup didunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah….. .tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian.. sejenak kerongkongannya tersekat,… kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat menghargai dengan apapun. coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti Ini. Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan bapak yg masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yg masih sakit.”
Sejenak meledaklah tangis anak2 pak suyatno merekapun melihat butiran2 kecil jatuh dipelupuk mata ibu Suyatno.. dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu.. Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa2.. disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yg hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru disitulah Pak Suyatno bercerita.
“Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi ( memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian) adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 orang anak yg lucu2.. Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama..dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit,,,”

Stay Hungry. Stay Foolish

In mendoan anget on Juni 2, 2008 at 9:39 am

Pidato Steve Job di Acara Wisuda Stanford University 

Saya merasa bangga di tengah-tengah Anda sekarang,  yang akan segera lulus dari salah satu universitas  terbaik di dunia. Saya tidak pernah selesai kuliah.  Sejujurnya,baru saat inilah saya merasakan suasana  wisuda. Hari ini saya akan menyampaikan tiga cerita  pengalaman
hidup saya. Ya, tidak perlu banyak. Cukup  tiga.

Cerita Pertama: Menghubungkan Titik-Titik 

Saya drop out (DO) dari Reed College setelah semester  pertama, namun saya tetap berkutat di situ sampai 18  bulan kemudian, sebelum betul-betul putus kuliah. 

Mengapa saya DO? 

Kisahnya dimulai sebelum saya lahir. Ibu kandung saya  adalah mahasiswi belia yang hamil karena “kecelakaan”  dan memberikan saya kepada seseorang untuk diadopsi. 

Dia bertekad bahwa saya harus diadopsi oleh keluarga  sarjana, maka saya pun diperjanjikan untuk dipungut  anak semenjak lahir oleh seorang pengacara dan  istrinya.
Sialnya, begitu saya lahir, tiba-tiba mereka  berubah pikiran karena ingin bayi perempuan. Maka  orang tua saya sekarang, yang ada di daftar urut  berikutnya, mendapatkan telepon larut malam dari  seseorang:
“kami punya bayi laki-laki yang batal  dipungut; apakah Anda berminat?” Mereka menjawab:  “Tentu saja.” Ibu kandung saya lalu mengetahui bahwa  ibu angkat saya tidak pernah lulus kuliah dan ayah  angkat saya bahkan tidak tamat SMA. Dia menolak  menandatangani perjanjian adopsi. Sikapnya baru  melunak beberapa bulan kemudian, setelah orang tua  saya berjanji akan menyekolahkan saya sampai perguruan  tinggi.

Dan, 17 tahun kemudian saya betul-betul kuliah. Namun,  dengan naifnya saya memilih universitas yang hampir  sama mahalnya dengan Stanford, sehingga seluruh  tabungan
orang tua saya- yang hanya pegawai rendahan-  habis untuk biaya kuliah. Setelah enam bulan, saya  tidak melihat manfaatnya. Saya tidak tahu apa yang  harus saya lakukan dalam hidup saya dan bagaimana  kuliah akan membantu saya menemukannya. Saya sudah  menghabiskan
seluruh tabungan yang dikumpulkan orang  tua saya seumur hidup mereka. Maka, saya pun  memutuskan berhenti kuliah, yakin bahwa itu yang  terbaik.
Saat itu rasanya menakutkan, namun sekarang  saya menganggapnya sebagai keputusan terbaik yang  pernah saya ambil. 

Begitu DO, saya langsung berhenti mengambil kelas  wajib yang tidak saya minati dan mulai mengikuti  perkuliahan yang saya sukai.  Masa-masa itu tidak selalu menyenangka n. Saya tidak  punya kamar kos sehingga nebeng tidur di lantai kamar  teman-temansaya. Saya mengembalikan botol Coca-Cola  agar dapat pengembalian 5 sen untuk membeli makanan.  Saya berjalan 7 mil melintasi kota setiap Minggu malam  untuk mendapat makanan enak di biara Hare Krishna. 

Saya menikmatinya. Dan banyak yang saya temui saat itu  karena mengikuti rasa ingin tahu dan intuisi, ternyata  kemudian sangat berharga. Saya beri Anda satu contoh:  Reed College mungkin waktu itu adalah yang terbaik di  AS dalam hal kaligrafi. Di seluruh penjuru kampus,  setiap poster, label, dan petunjuk ditulis tangan  dengan sangat indahnya. Karena sudah DO, saya tidak  harus mengikuti perkuliahan normal. Saya memutuskan  mengikuti
kelas kaligrafi guna mempelajarinya. Saya  belajar jenis-jenis huruf serif dan san serif, membuat  variasi spasi antar kombinasi kata dan kiat membuat  tipografi yang hebat. Semua itu merupakan kombinasi  cita rasa keindahan, sejarah dan seni yang tidak dapat  ditangkap
melalui sains. Sangat menakjubkan. 

Saat itu sama sekali tidak terlihat manfaat kaligrafi  bagi kehidupan saya. Namun sepuluh tahun kemudian,  ketika kami mendisain komputer Macintosh yang pertama,  ilmu itu sangat bermanfaat. Mac adalah komputer  pertama yang bertipografi cantik. Seandainya saya  tidak
DO dan mengambil kelas kaligrafi, Mac tidak akan  memiliki sedemikian banyak huruf yang beragam bentuk  dan proporsinya. Dan karena Windows menjiplak Mac,  maka tidak ada PC yang seperti itu. Andaikata saya  tidak DO, saya tidak berkesempatan mengambil kelas  kaligrafi, dan PC tidak memiliki tipografi yang indah. 

Tentu saja, tidak mungkin merangkai cerita seperti itu  sewaktu saya masih kuliah. Namun, sepuluh tahun  kemudian segala sesuatunya menjadi gamblang. 

Sekali lagi, Anda tidak akan dapat merangkai titik  dengan melihat ke depan; Anda hanya bisa melakukannya  dengan merenung ke belakang. Jadi, Anda harus percaya  bahwa titik-titik Anda bagaimana pun akan terangkai di  masa mendatang. Anda harus percaya dengan intuisi,  takdir, jalan hidup, karma Anda, atau istilah apa pun  lainnya.Pendekatan ini efektif dan membuat banyak  perbedaan dalam kehidupan saya. 

Cerita Kedua Saya: Cinta dan Kehilangan. 

Saya beruntung karena tahu apa yang saya sukai sejak  masih muda. Woz dan saya mengawali Apple di garasi  orang tua saya ketika saya berumur 20 tahun. Kami  bekerja keras dan dalam 10 tahun Apple berkembang dari  hanya kami berdua menjadi perusahaan 2 milyar dolar  dengan 4000 karyawan. Kami baru meluncurkan produk  terbaik kami-Macintosh- satu tahun sebelumnya, dan  saya baru menginjak usia 30. Dan saya dipecat. 

Bagaimana mungkin Anda dipecat oleh perusahaan yang  Anda dirikan? Yah, itulah yang terjadi. Seiring  pertumbuhan Apple, kami merekrut orang yang saya pikir  sangat berkompeten untuk menjalankan perusahaan  bersama saya. Dalam satu tahun pertama,semua berjalan  lancar. Namun, kemudian muncul perbedaan dalam visi  kami
mengenai masa depan dan kami sulit disatukan.  Komisaris ternyata berpihak padanya. Demikianlah, di  usia 30 saya tertendang. Beritanya ada di mana-mana. 

Apa yang menjadi fokus sepanjang masa dewasa saya,  tiba-tiba sirna. Sungguh menyakitkan.  Dalam beberapa bulan kemudian, saya tidak tahu apa  yang harus saya lakukan. Saya merasa telah  mengecewakan banyak wirausahawan generasi sebelumnya  -saya
gagal mengambil kesempatan. Saya bertemu dengan  David Packard dan Bob Noyce dan meminta maaf atas  keterpurukan saya. Saya menjadi tokoh publik yang  gagal, dan bahkan berpikir untuk lari dari Silicon  Valley.

Namun, sedikit demi sedikit semangat timbul  kembali- saya masih menyukai pekerjaan saya. Apa yang  terjadi di Apple sedikit pun tidak mengubah saya. Saya  telah ditolak, namun saya tetap cinta. Maka, saya  putuskan untuk mulai lagi dari awal. 

Waktu itu saya tidak melihatnya, namun belakangan baru  saya sadari bahwa dipecat dari Apple adalah kejadian  terbaik yang menimpa saya. Beban berat sebagai orang  sukses
tergantikan oleh keleluasaan sebagai pemula,  segala sesuatunya lebih tidak jelas. Hal itu  mengantarkan saya pada periode paling kreatif dalam  hidup saya. 

Dalam lima tahun berikutnya, saya mendirikan  perusahaan bernama NeXT, lalu Pixar, dan jatuh cinta  dengan wanita istimewa yang kemudian menjadi istri  saya.Pixar bertumbuh menjadi perusahaan yang  menciptakan film animasi komputer pertama, Toy Story,  dan
sekarang merupakan studio animasi paling sukses di  dunia. Melalui rangkaian peristiwa yang menakjubkan,  Apple membeli NeXT, dan saya kembali lagi ke Apple,  dan teknologi yang kami kembangkan di NeXT menjadi  jantung bagi kebangkitan kembali Apple. Dan, Laurene  dan saya memiliki keluarga yang luar biasa. 

Saya yakin takdir di atas tidak terjadi bila saya  tidak dipecat dari Apple. Obatnya memang pahit, namun  sebagai pasien saya memerlukannya. Kadangkala  kehidupan menimpakan batu ke kepala Anda. Jangan  kehilangan kepercayaan. Saya yakin bahwa satu-satunya  yang
membuat saya terus berusaha adalah karena saya  menyukai apa yang saya lakukan. Anda harus menemukan  apa yang Anda sukai. Itu berlaku baik untuk pekerjaan  maupun pasangan hidup Anda. Pekerjaan Anda akan  menghabiskan sebagian besar hidup Anda, dan kepuasan  sejati hanya dapat diraih dengan mengerjakan sesuatu  yang hebat. Dan Anda hanya bisa hebat bila mengerjakan  apa yang Anda sukai. Bila Anda belum menemukannya,  teruslah mencari. Jangan menyerah. Hati Anda akan  mengatakan
bila Anda telah menemukannya. Sebagaimana  halnya dengan hubungan hebat lainnya, semakin lama-  semakin mesra Anda dengannya. Jadi, teruslah mencari  sampai ketemu. Jangan berhenti. 

Cerita Ketiga Saya: Kematian 

Ketika saya berumur 17, saya membaca ungkapan yang  kurang lebih berbunyi: “Bila kamu menjalani hidup  seolah-olah hari itu adalah hari terakhirmu, maka  suatu hari kamu akan benar.” Ungkapan itu membekas  dalam diri saya, dan semenjak saat itu, selama 33  tahun
terakhir, saya selalu melihat ke cermin setiap  pagi dan bertanya kepada diri sendiri: “Bila ini  adalah hari terakhir saya, apakah saya tetap melakukan  apa yang akan saya lakukan hari ini?” Bila jawabannya  selalu “tidak” dalam beberapa hari berturut-turut,  saya tahu saya harus berubah. 

Mengingat bahwa saya akan segera mati adalah kiat  penting yang saya temukan untuk membantu membuat  keputusan besar. Karena hampir segala sesuatu-semua  harapan
eksternal, kebanggaan, takut malu atau  gagal-tidak lagi bermanfaat saat menghadapi kematian.  Hanya yang hakiki yang tetap ada. Mengingat kematian  adalah cara terbaik yang saya tahu untuk menghindari  jebakan berpikir bahwa Anda akan kehilangan sesuatu. 

Anda tidak memiliki apa-apa. Sama sekali tidak ada  alasan untuk tidak mengikuti kata hati Anda.  Sekitar setahun yang lalu saya didiagnosis mengidap  kanker. Saya menjalani scan pukul 7:30 pagi dan  hasilnya jelas menunjukkan saya memiliki tumor  pankreas. Saya bahkan tidak tahu apa itu pankreas.  Para dokter mengatakan kepada saya bahwa hampir pasti  jenisnya adalah yang tidak dapat diobati. Harapan  hidup saya tidak lebih dari 3-6 bulan. Dokter  menyarankan saya pulang ke rumah dan membereskan  segala sesuatunya, yang merupakan sinyal dokter agar  saya bersiap mati. Artinya, Anda harus menyampaikan  kepada
anak Anda dalam beberapa menit segala hal yang  Anda rencanakan dalam sepuluh tahun mendatang.  Artinya, memastikan bahwa segalanya diatur agar mudah  bagi keluarga Anda. Artinya, Anda harus mengucapkan  selamat tinggal. 

Sepanjang hari itu saya menjalani hidup berdasarkan  diagnosis tersebut. Malam harinya, mereka memasukkan  endoskopi ke tenggorokan, lalu ke perut dan lambung,  memasukkan
jarum ke pankreas saya dan mengambil  beberapa sel tumor. Saya dibius, namun istri saya,  yang ada di sana, mengatakan bahwa ketika melihat  selnya di bawah mikroskop, para dokter menangis  mengetahui bahwa jenisnya adalah kanker pankreas yang  sangat jarang, namun bisa diatasi dengan operasi. Saya  dioperasi dan sehat sampai sekarang. 

Itu adalah rekor terdekat saya dengan kematian dan  berharap terus begitu hingga beberapa dekade lagi.  Setelah melalui pengalaman tersebut, sekarang saya  bisa katakan dengan yakin kepada Anda bahwa menurut  konsep pikiran, kematian adalah hal yang berguna:  Tidak
ada orang yang ingin mati. Bahkan orang yang  ingin masuk surga pun tidak ingin mati dulu untuk  mencapainya. Namun, kematian pasti menghampiri kita.  Tidak ada yang bisa mengelak. Dan, memang harus  demikian, karena kematian adalah buah terbaik dari  kehidupan. Kematian membuat hidup berputar. Dengannya  maka yang tua menyingkir untuk digantikan yang muda.  Maaf bila terlalu dramatis menyampaikannya, namun  memang begitu. 

Waktu Anda terbatas, jadi jangan sia-siakan dengan  menjalani hidup orang lain. Jangan terperangkap dengan  dogma-yaitu hidup bersandar pada hasil pemikiran orang  lain.Jangan biarkan omongan orang menulikan Anda  sehingga tidak mendengar kata hati Anda. Dan yang  terpenting, miliki keberanian untuk mengikuti kata  hati dan intuisi Anda, maka Anda pun akan sampai pada  apa yang Anda inginkan. Semua hal lainnya hanya nomor  dua.

Ketika saya masih muda, ada satu penerbitan hebat yang  bernama “The Whole Earth Catalog”, yang menjadi salah  satu buku pintar generasi saya. Buku itu diciptakan  oleh
seorang bernama Stewart Brand yang tinggal tidak  jauh dari sini di Menlo Park, dan dia membuatnya  sedemikian menarik dengan sentuhan puitisnya. Waktu  itu akhir 1960-an, sebelum era komputer dan desktop  publishing, jadi semuanya dibuat dengan mesin tik,  gunting, dan kamera polaroid. Mungkin seperti Google  dalam bentuk kertas, 35 tahun sebelum kelahiran  Google: isinya padat dengan tips-tips ideal dan  ungkapan-ungkapan
hebat. 

Stewart dan timnya sempat menerbitkan beberapa edisi  “The Whole Earth Catalog”, dan ketika mencapai titik  ajalnya, mereka membuat edisi terakhir. Saat itu  pertengahan
1970-an dan saya masih seusia Anda. Di  sampul belakang edisi terakhir itu ada satu foto jalan  pedesaan di pagi hari, jenis yang mungkin Anda lalui  jika suka bertualang. Di bawahnya ada kata-kata: “Stay  Hungry. Stay Foolish.” (Jangan Pernah Puas. Selalu  Merasa Bodoh). Itulah pesan perpisahan yang dibubuhi  tanda tangan mereka.

Stay Hungry. Stay Foolish. Saya  selalu mengharapkan diri saya begitu. Dan sekarang,  karena Anda akan lulus untuk memulai kehidupan baru,  saya harapkan Anda juga begitu. Stay Hungry. Stay Foolish.

We are not a human being and having a spiritual expirience;  we are a spiritual being and having a human expirience .

(dari Boim Deddy)

Di Balik Layar Bokep

In mendoan anget on Mei 26, 2008 at 9:15 am

Pornografi adalah bisnis online yg sangat besar. Jutaan orang mengaksesk situs-2 porno di internet dan sejak dahulu pornografi menjadi pemicu masalah mental nomer 1 di US ( 40 juta orang di US secara teratur mengakses situs-2 porno setiap hari…bayangin aja ! indonesia berapa tuh? ). Padahal dibalik semua itu porno (dalam hal ini yg mau gue tekankan adalah bokep/blue film/xxx rated film) tidak seglamour seperti yang tampak dari luar. Berikut ini ada beberapa fakta yg jarang diungkapkan :

1. Artis porno 100% berbohong kalo mereka bilang menikmati pembuatan film bokep yg mereka peranin. Meski artis wanita bisa dibayar 10x lipat dari pemeran pria tp dalam proses pembuatan film porno bisa berlangsung 18 jam sehari untuk menghemat budget dan dalam sehari mereka bisa shoting utk 3 s/d 4 scene berbeda.

2. Setiap scene nya bisa berlangsung berjam-jam tergantung dari apa aktornya bisa ”tampil” sesuai dengan harapan sang sutradara atau apa si artis yg harus istirahat dulu karena rasa sakit saat melakukan adegan hardcore. Seperti adegan anal sex yg seringkali harus dihentikan karena ada yg seharusnya gk boleh tampil

3. Saat menunggu scene berikutnya biasanya artis porno menghabiskan waktu di restroom utk minum minuman keras atau pake narkoba biar bisa ngurangin rasa malu dan sakit dalam adegan berikutnya. Untuk diketahui di industri film porno test yg wajib dilakukan utk tiap aktor & artis adalah test HIV (sebulan sekali) sedangkan test drugs tdk ada.

4. Situasi saat shooting film porno sangat menyiksa baik secara fisik maupun mental khususnya utk artis wanita karena 12 – 18 orang berdiri dibalik layar (banyangin aja lu ngeseks sama orang ditontonin orang-2) mulai dari sutradara & asistennya, fans berat yg dapet hadiah nonton langsung sampai tukang lampu dan fotografer yg punya hak utk mem“freeze” adegan tertentu agar bisa diambil angle foto yg terbaik.

5. Artis porno adalah pembohong profesional karena kalo mereka menceritakan kenyataan sebenernya maka hancurlah fantasi yg ada di tiap kepala ngeres para penggemar dan sekaligus menghancurkan karir “indah” mereka. Dan disinilah ironisnya karena udah terbiasa bohong para artis film bokep biasanya malah punya kemampuan akting yg lebih baik dari kebanyakan bintang hollywood.

- Sepanjang tahun 2007 9 bintang film porno meninggal karena HIV
- 66% bintang bokep menderita herpes dan sekitar 12-28% menderita penyakit menular seksual lainnya.
- sejak tahun 1990 sudah ada 26 bintang porno mati bunuh diri.
- sejak tahun 1990 ada 45 bintang porno meninggal akibat overdosis narkoba.
- lebih dari 90 orang bintang porno positif HIV, 25 org masih bertahan hidup.
- antara tahun 2003 sd 2005, 976 bintang film porno dilaporkan positif menderita penyakit menular seksual.

(dari Boim Deddy)

Menunggu Kehancuran Dunia

In mendoan anget on Mei 19, 2008 at 11:31 am

(Dari Gamal Muaddi)

Mungkin Anda menduga, udara yang akhir-akhir ini makin panas, bukanlah suatu masalah yang perlu kita risaukan.

“Mana mungkin sih tindakan satu-dua makhluk hidup di jagat semesta bisa mengganggu kondisi planet bumi yang mahabesar ini?” barangkali begitulah Anda berpikir.

Baru-baru ini, Inter-governmental Panel on Cimate Change (IPCC) mempublikasikan hasil pengamatan ilmuwan dari berbagai negara. Isinya sangat mengejutkan. Selama tahun 1990-2005, ternyata telah terjadi peningkatan suhu merata di seluruh bagian bumi, antara 0,15 – 0,3o C. Jika peningkatan suhu itu terus berlanjut, diperkirakan pada tahun 2040 (33 tahun dari sekarang) lapisan es di kutub-kutub bumi akan habis meleleh. Dan jika bumi masih terus memanas, pada tahun 2050 akan terjadi kekurangan air tawar, sehingga kelaparan pun akan meluas di seantero jagat. Udara akan sangat panas, jutaan orang berebut air dan makanan. Napas tersengal oleh asap dan debu. Rumah-rumah di pesisir terendam air laut. Luapan air laut makin lama makin luas, sehingga akhirnya menelan seluruh pulau. Harta benda akan lenyap, begitu pula nyawa manusia.

Di Indonesia, gejala serupa sudah terjadi. Sepanjang tahun 1980-2002, suhu minimum kota Polonia (Sumatera Utara) meningkat 0,17o C per tahun. Sementara, Denpasar mengalami peningkatan suhu maksimum hingga 0,87 o C per tahun. Tanda yang kasat mata adalah menghilangnya salju yang dulu menyelimuti satu-satunya tempat bersalju di Indonesia , yaitu Gunung Jayawijaya di Papua.

Hasil studi yang dilakukan ilmuwan di Pusat Pengembangan Kawasan Pesisir dan Laut, Institut Teknologi Bandung (2007), pun tak kalah mengerikan.

Ternyata, permukaan air laut Teluk Jakarta meningkat setinggi 0,8 cm. Jika suhu bumi terus meningkat, maka diperkirakan, pada tahun 2050 daerah-daerah di Jakarta (seperti : Kosambi, Penjaringan, dan Cilincing) dan Bekasi (seperti : Muaragembong, Babelan, dan Tarumajaya) akan terendam semuanya.

Dengan adanya gejala ini, sebagai warga negara kepulauan, sudah seharusnya kita khawatir. Pasalnya, pemanasan global mengancam kedaulatan negara. Es yang meleleh di kutub-kutub mengalir ke laut lepas dan menyebabkan permukaan laut bumi – termasuk laut di seputar Indonesia – terus meningkat. Pulau-pulau kecil terluar kita bisa lenyap dari peta bumi, sehingga garis kedaulatan negara bisa menyusut. Dan diperkirakan dalam 30 tahun mendatang sekitar 2000 pulau di Indonesia akan tenggelam. Bukan hanya itu, jutaan orang yang tinggal di pesisir pulau kecil pun akan kehilangan tempat tinggal. Begitu pula asset-asset usaha wisata pantai.

Peneliti senior dari Center for Int erna tional Forestry Research (CIFOR), menjelaskan, pemanasan global adalah kejadian terperangkapnya radiasi gelombang panjang matahari (disebut juga gelombang panas / inframerah) yang dipancarkan bumi oleh gas-gas rumah kaca (efek rumah kaca adalah istilah untuk panas yang terperangkap di dalam atmosfer bumi dan tidak bisa menyebar). Gas-gas ini secara alami terdapat di udara (atmosfer). Penipisan lapisan ozon juga memperpanas suhu bumi. Karena, makin tipis lapisan-lapisan teratas atmosfer, makin leluasa radiasi gelombang pendek matahari (termasuk ultraviolet) memasuki bumi. Pada gilirannya, radiasi gelombang pendek ini juga berubah menjadi gelombang panas, sehingga kian meningkatkan konsentrasi gas rumah kaca tadi.

Karbondioksida (CO2) adalah gas terbanyak (75%) penyumbang emisi gas rumah kaca. Setiap kali kita menggunakan bahan bakar fosil (minyak, bensin, gas alam, batubara) untuk keperluan rumah tangga, mobil, pabrik, ataupun membakar hutan, otomatis kita melepaskan CO2 ke udara. Gas lain yang juga masuk peringkat atas adalah metan (CH4,18%), ozone (O3,12%), dan clorofluorocarbon (CFC,14%). Gas metan banyak dihasilkan dari proses pembusukan materi organic seperti yang banyak terjadi di pet erna kan sapi. Gas metan juga dihasilkan dari penggunaan BBM untuk kendaraan. Sementara itu, emisi gas CFC banyak timbul dari sistem kerja kulkas dan AC model lama. Bersama gas-gas lain, uap air ikut meningkatkan suhu rumah kaca.

Gejala sangat kentara dari pemanasan global adalah berubahnya iklim. Contohnya, hujan deras masih sering datang, meski kini kita sudah memasuki bulan yang seharusnya sudah terhitung musim kemarau. Menurut perkiraan, dalam 30 tahun terakhir, pergantian musim kemarau ke musim hujan terus bergeser, dan kini jaraknya berselisih nyaris sebulan dari normal. Banyak orang menganggap, banjir besar bulan Februari lalu yang merendam lebih dari separuh DKI Jakarta adalah akibat dari pemanasan global saja. Padahal 35% rusaknya hutan kota dan hutan di Puncak adalah penyebab makin panasnya udara Jakarta . Itu sebabnya, kerusakan hutan di Indonesia bukan hanya menjadi masalah warga Indonesia , melainkan juga warga dunia. Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), mengatakan, Indonesia pantas malu karena telah menjadi Negara terbesar ke-3 di dunia sebagai penyumbang gas rumah kaca dari kebakaran hutan dan pembakaran lahan gambut (yang diubah menjadi permukiman atau hutan industri). Jika kita tidak bisa menyelamatkan mulai dari sekarang, 5 tahun lagi hutan di Sumatera akan habis, 10 tahun lagi hutan Kalimantan yang habis, 15 tahun lagi hutan di seluruh Indonesia tak tersisa. Di saat itu, anak-anak kita tak lagi bisa menghirup udara bersih.

Jika kita tidak secepatnya berhenti boros energi, bumi akan sepanas planet Mars. Tak akan ada satupun makhluk hidup yang bisa bertahan, termasuk anak-anak kita nanti.

Cara-cara praktis dan sederhana ‘mendinginkan’ bumi :

1.. Matikan listrik. (jika tidak digunakan, jangan tinggalkan alat elektronik dalam keadaan standby. Cabut charger telp. genggam dari stop kontak. Meski listrik tak mengeluarkan emisi karbon, pembangkit listrik PLN menggunakan bahan baker fosil penyumbang besar emisi).
2.. Ganti bohlam lampu ke jenis CFL, sesuai daya listrik. Meski harganya agak mahal, lampu ini lebih hemat listrik dan awet. Hindari penggunaan lampu berwarna kuning karena lebih panas. Yang berwarna putih lebih baik.)
3.. Bersihkan lampu (debu bisa mengurangi tingkat penerangan hingga 5%).
4.. Jika terpaksa memakai AC….,Tutup pintu dan jendela selama AC menyala. Atur suhu sejuk secukupnya, sekitar 21-24o C).
5.. Gunakan timer (untuk AC, microwave, oven, magic jar, dll).
6.. Alihkan panas limbah mesin AC untuk mengoperasikan water-heater.
7.. Tanam pohon di lingkungan sekitar Anda.
8.. Jemur pakaian di luar. Angin dan panas matahari lebih baik ketimbang memakai mesin (dryer) yang banyak mengeluarkan emisi karbon.
9.. Gunakan kendaraan umum (untuk mengurangi polusi udara).
10.. Hemat penggunaan kertas (bahan bakunya berasal dari kayu).
11.. Say no to plastic. Hampir semua sampah plastic menghasilkan gas berbahaya ketika dibakar. Atau Anda juga dapat membantu mengumpulkannya untuk didaur ulang kembali.
12.. Sebarkan berita ini kepada orang-orang di sekitar Anda, agar mereka turut berperan serta dalam menyelamatkan bumi.
13.. Gunakan selalu barang-barang yang dapat didaur ulang (hindari penggunaan sumpit bambu).

Jika kita tetap tidak peduli kita hanya tinggal menunggu waktu saja ………………….. Save Our Earth…..Please Act your part RIGHT NOW!

Paribasan

In peyek kedele on Februari 16, 2008 at 9:37 am
  • Adigang, adigung, adiguna – Ngandelaké kakuwatané, kaluhurané, lan kapinterané.
  • Bathok bolu isi madu – Wong asor nanging sugih kapinteran.
  • Becik ketitik ala ketara – becik lan ala bakalan ketara ing mburiné
  • Dhemit ora ndulit, setan ora doyan – Tansah diparingi slamet ora ana kang ngrusuhi
  • Emban cindhé emban siladan – Pilih kasih ora adil
  • Enggon welut didoli udhet – Panggoné wong pinter dipameri kapinteran sing ora sepirowa
  • Gupak puluté ora mangan nangkané – Mélu rekasa nanging ora mélu ngarakaké kepénaké
  • Jer Basuki mawa béa – Samubarang gegayuhan mbutuhaké wragat
  • Kacang ora ninggal lanjaran – Anak niru wong tuwané
  • Kaya banyu karo lenga – Wong kang ora bisa rukun
  • Kebo nusu gudél – wong tuwa njaluk wuruk marang wong enom
  • Kegedhen empyak kurang cagak – Kegedhén kakarepan nanging kurang sembada
  • Kuthuk marani sunduk – Ula marani gepuk — Marani bebaya
  • Maju tatu mundur ajur – Prakara kang sarwa pakéwuh
  • Nabok Nyilih tangan – Tumindak ala kanthi kongkonan wong liya
  • Pupur sakdurungé benjut – Ngati ati mumpung durung cilaka
  • Sapa Sing salah bakal séléh – Sapa sing salah bakal konangan
  • Tumbak cucukan – Wong kang seneng adu-adu
  • Tulung Menthung – ditulungi malah ngrusuhi
  • Wiwit kuncung nganti gelung – Wiwit cilik nganti tuwa
  • Yuyu rumpung mbarong rongé – Omahé magrong2 nanging sejatiné mlarat

Bung Hatta Dan Kisah Sepatu Bally

In mendoan anget on November 20, 2007 at 9:52 am

PADA tahun 1950-an, Bally adalah sebuah merek sepatu yang bermutu tinggi dan tentu tidak murah. Bung Hatta, Wakil Presiden pertama RI, berminat pada sepatu Bally. Ia kemudian menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya, lalu berusaha menabung agar bisa membeli sepatu idaman tersebut.

Namun, uang tabungan tampaknya tidak pernah mencukupi karena selalu terambil untuk keperluan rumah tangga atau untuk membantu kerabat dan handai taulan yang datang kepadanya untuk meminta pertolongan. Hingga akhir hayatnya, sepatu Bally idaman Bung Hatta tidak pernah terbeli karena tabungannya tak pernah mencukupi.

Yang sangat mengharukan dari cerita ini, guntingan iklan sepatu Bally itu hingga Bung Hatta wafat masih tersimpan dan menjadi saksi keinginan sederhana dari seorang Hatta. Jika ingin memanfaatkan posisinya waktu itu, sebenarnya sangatlah mudah bagi Bung Hatta untuk memperoleh sepatu Bally.
Misalnya, dengan meminta tolong para duta besar atau pengusaha yang menjadi kenalan Bung Hatta.

“Namun, di sinilah letak keistimewaan Bung Hatta. Ia tidak mau meminta sesuatu untuk kepentingan sendiri dari orang lain. Bung Hatta memilih jalan sukar dan lama, yang ternyata gagal karena ia lebih mendahulukan orang lain daripada kepentingannya sendiri,” kata Adi Sasono, Ketua Pelaksana Peringatan Satu Abad Bung Hatta. Pendeknya, itulah keteladanan Bung Hatta, apalagi di tengah carut-marut zaman ini, dengan dana bantuan presiden, dana Badan Urusan Logistik, dan lain-lain.

Bung Hatta meninggalkan teladan besar, yaitu sikap mendahulukan orang lain, sikap menahan diri dari meminta hibah, bersahaja, dan membatasi konsumsi pada kemampuan yang ada. Kalau belum mampu, harus berdisiplin dengan tidak berutang atau bergantung pada orang lain. Seandainya bangsa Indonesia dapat meneladani karakter mulia proklamator kemerdekaan ini, seandainya para pemimpin tidak maling, tidak mungkin bangsa dengan sumber alam yang melimpah ini menjadi bangsa terbelakang, melarat, dan nista karena tradisi berutang dan meminta sedekah dari orang asing….

Punya Ponsel Ngga Punya Ilmunya

In mendoan anget on Juni 26, 2007 at 11:40 am

Dari Yosi Saraswati

Saya sedih mendengar terbakarnya pesawat Garuda, GA200 pada tanggal 7 Maret 2007, pukul 07.00 pagi, jurusan Jakarta-Yogyakarta di Bandara Adisucipto. Kejadian itu sungguh menyayat hati dan perasaan.

Kemudian saya teringat beberapa bulan yang lalu terbang ke Batam dengan menggunakan pesawat Garuda juga. Di dalam pesawat duduk disamping saya seorang warga Jerman. Pada saat itu dia merasa sangat gusar dan terlihat marah, karena tiba-tiba mendengar suara handphone tanda sms masuk dari salah satu penumpang, dimana pada saat itu pesawat dalam posisi mau mendarat. Orang ini terlihat ingin menegur tetapi tidak berdaya karena bukan merupakan tugasnya.

Langsung saya tanya kenapa tiba-tiba dia bersikap seperti itu, kemudian dia bercerita bahwa dia adalah manager salah satu perusahaan industri, dimana dia adalah supervisor khusus mesin turbin. Saat dia melaksanakan tugasnya tiba-tiba mesin turbin mati, setelah diselidiki ternyata ada salah satu petugas sedang menggunaka HP didalam ruangan mesin turbin.

Orang Jerman ini menjelaskan bahwa apabila frekwensi HP dengan mesin turbin ini kebetulan sama dan sinergi ini akan berakibat mengganggu jalannya turbin tersebut, lebih fatal lagi berakibat turbin bisa langsung mati.

Cerita ini langsung saya kaitkan dengan peristiwa diatas, kalau saya tidak salah mendengar mesin pesawat tiba-tiba mati pada saat mau mendarat. Mudah-mudahan peristiwa ini bukan akibat HP penumpang. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk masyarakat yang sering bepergian dengan pesawat.(KOMPAS)

Rakyat kita ini memang High class.. Handphone nya mahal, Transportasi pake pesawat. Tapi bodohnya gk ketulungan. Ada yang gk tau kenapa larangan itu dibuat, ada yang tau tapi tetap gk peduli. Orang indonesia harus selalu belajar dengan cara yang keras.
Buat yang belum tahu, kenapa Gk boleh menyalakan Handphone di pesawat, berikut penjelasannya:

Sekedar untuk informasi saja, mungkin rekan-rekan semua sudah mendengar berita mengenai kecelakaan pesawat yang baru “take-off” dari Lanud Polonia -Medan. Sampai saat ini penyebab kejadian tersebut belum diketahui dengan pasti.

Mungkin sekedar sharing saja buat kita semua yang memiliki dan menggunakan ponsel/telpon genggam atau apapun istilahnya. Ternyata menurut sumber informasi yang didapat dari ASRS (Aviation Safety Reporting System) bahwa ponsel mempunyai kontributor yang besar terhadap keselamatan penerbangan. Sudah banyak kasus kecelakaan pesawat terbang yang terjadi akibatkan oleh ponsel. Mungkin informasi dibawah ini dapat bermanfaat untuk kita semua, terlebih yang sering menggunakan pesawat terbang.

Contoh kasusnya antara lain:

Pesawat Crossair dengan nomor penerbangan LX498 baru saja “take-off” dari bandara Zurich, Swiss. Sebentar kemudian pesawat menukik jatuh. Sepuluh penumpangnya tewas. Penyelidik menemukan bukti adanya gangguan sinyal ponsel terhadap sistem kemudi pesawat.

Sebuah pesawat Slovenia Air dalam penerbangan menuju Sarajevo melakukan pendaratan darurat karena sistem alarm di kokpit penerbang terus meraung-raung. Ternyata, sebuah ponsel di dalam kopor dibagasi lupa dimatikan, dan menyebabkan gangguan terhadap sistem navigasi.

Boeing 747 Qantas tiba-tiba miring ke satu sisi dan mendaki lagi setinggi 700 kaki justru ketika sedang “final approach” untuk “landing” di bandara Heathrow, London. Penyebabnya adalah karena tiga penumpang belum mematikan komputer, CD player, dan electronic game masing-masing (The Australian, 23-9-1998).

Seperti kita tahu di Indonesia? Begitu roda-roda pesawat menjejak landasan, langsung saja terdengar bunyi beberapa ponsel yang baru saja diaktifkan.

Para “pelanggar hukum” itu seolah-olah tak mengerti, bahwa perbuatan mereka dapat mencelakai penumpang lain, disamping merupakan gangguan (nuisance) terhadap kenyamanan orang lain.

Dapat dimaklumi, mereka pada umumnya memang belum memahami tatakrama menggunakan ponsel, disamping juga belum mengerti bahaya yang dapat ditimbulkan ponsel dan alat elektronik lainnya terhadap sistem navigasi dan kemudi pesawat terbang. Untuk itulah ponsel harus dimatikan, tidak hanya di-switch agar tidak berdering selama berada di dalam pesawat.

Berikut merupakan bentuk ganguan-gangguan yang terjadi di pesawat: Arah terbang melenceng,Indikator HSI (Horizontal Situation Indicator) terganggu, Gangguan penyebab VOR (VHF Omnidirectional Receiver) tak terdengar, Gangguan sistem navigasi, Gangguan frekuensi komunikasi, Gangguan indikator bahan bakar,Gangguan sistem kemudi otomatis, Semua gangguan diatas diakibatkan oleh ponsel, sedangkan gangguan lainnya seperti Gangguan arah kompas komputer diakibatkan oleh CD & game Gangguan indikator CDI (Course Deviation Indicator) diakibatkan oleh gameboy Semua informasi diatas adalah bersumber dari ASRS.

Dengan melihat daftar gangguan diatas kita bisa melihat bahwa bukan saja ketika pesawat sedang terbang, tetapi ketika pesawat sedang bergerak di landasan pun terjadi gangguan yang cukup besar akibat penggunaan ponsel.

Kebisingan pada headset para penerbang dan terputus-putusnya suara mengakibatkan penerbang tak dapat menerima instruksi dari menara pengawas dengan baik.

Untuk diketahui, ponsel tidak hanya mengirim dan menerima gelombang radio melainkan juga meradiasikan tenaga listrik untuk menjangkau BTS (Base Transceiver Station). Sebuah ponsel dapat menjangkau BTS yang berjarak 35 kilometer. Artinya, pada ketinggian 30.000 kaki, sebuah ponsel bisa menjangkau ratusan BTS yang berada dibawahnya. (Di Jakarta saja diperkirakan ada sekitar 600 BTS yang semuanya dapat sekaligus terjangkau oleh sebuah ponsel aktif di pesawat terbang yang sedang bergerak di atas Jakarta).(Varis/ pertamina)

Sebagai mahluk modern, sebaiknya kita ingat bahwa pelanggaran hukum adalah juga pelanggaran etika. Tidakkah kita malu dianggap sebagai orang yang tidak peduli akan keselamatan orang lain, melanggar hukum, dan sekaligus tidak tahu tata krama?

Sekiranya bila kita naik pesawat, bersabarlah sebentar. Semua orang tahu kita memiliki ponsel. Semua orang tahu kita sedang bergegas. Semua orang tahu kita orang penting. Tetapi, demi keselamatan sesama, dan demi sopan santun menghargai sesama, janganlah mengaktifkan ponsel selama di dalam pesawat terbang.

Semoga suatu hari rakyat kita bisa sedikit lebih pintar.

Rasa Kebangsaan yang Terkoyak

In mendoan anget on Juni 6, 2007 at 10:04 am

Dari Robbie YP:

HERR Adolf Hitler punya konsep tegas tentang bangsa. Menurut dia, semua yang sedarah dengan Jerman, dari ras Aria, adalah bangsa Jerman. Semua yang setanah adalah Jerman. Semua yang sebahasa adalah bangsa Jerman.

Maka, konsep bangsa bagi Hitler merupakan kolektivitas politik. Berdalih karena sedarah, setanah, atau sebahasa, Hitler merasa sah-sah saja melakukan ekspansi ke beberapa negara untuk dijadikan bagian bangsa Jerman.

Konsep bangsa ala Hitler ini tetap saja mengandung keterbatasan. Mereka yang berada di luar sedarah, setanah dan sebahasa, tentu sudah merupakan bangsa lain. Oleh karena itulah ekspansi menjadi pilihan.

Agaknya perkembangan atas konsep bangsa memang begitu. Di kemudian hari konsep bangsa dibayangkan sebagai sesuatu yang hakikatnya bersifat terbatas. Hakikat itu didasari oleh kenyataan bahwa bangsa terbesar sekalipun, katakanlah dengan semiliar manusia, tetap saja memiliki garis-garis pembatas yang pasti walau bisa elastis.

Di dalam keterbatasan itu timbullah kebersamaan. Bahkan kebersamaan itu berkembang menjadi rasa persaudaraan dan kesetiakawanan. Jadi bangsa mengandung pula makna persaudaraan dan kesetiakawanan.

Benedict Anderson menggambarkan unsur kebersamaan itu pada sebuah bangsa. Anderson menjelaskan bangsa adalah sesuatu yang terbayang karena para anggota bangsa, terkecil sekalipun, tidak bakal tahu dan tidak kenal sebagian besar anggota lain, tidak akan bertatap muka dengan mereka, bahkan bisa saja tidak pernah mendengar tentang mereka.

Namun, di antara para anggota bangsa itu hidup sebuah bayangan tentang kebersamaan mereka. Ditambahi oleh Ernest Renan, intisari sebuah bangsa adalah bahwa di dalamnya setiap individu memiliki banyak hal yang menjadi kepunyaan bersama.

Saya sengaja mengambil konsep bangsa sebagaimana paparan di atas, di antara ragam konsep yang ada, semata-mata ingin menunjukkan makna kebersamaan di dalamnya. Ketika para pemimpin menyatakan ‘kita sebangsa’, maka ‘kita memiliki kepunyaan bersama’, dan ‘kita hidup dalam kebersamaan’. Dengan kebersamaan itu, kita sebagai bangsa bersama-sama merasa dilecehkan bangsa lain. Namun, kita pun merasa kebersamaan itu terpecah-belah. Itulah rasa kebangsaan yang belakangan ini kita alami. Rasa kebangsaan itu bisa meletup-letup, tetapi tanpa kita sadari tengah dikoyak-koyak.

Dewasa ini rasa kebangsaan itu tak bisa lepas dari peranan media. Kata Anderson, media mendorong kita untuk membayangkan peristiwa secara beruntun yang melintasi batas ruang dan waktu. Bayangan inilah yang memberikan kontribusi pada konsep bangsa. Apa yang dikemukakan Anderson ini bisa kita rasakan. Misalnya pada kasus Sutiyoso maupun kasus penembakan oleh Marinir terhadap warga Desa Alas Tlogo, Pasuruan, Jawa Timur. Itulah yang saya katakan kebangsaan meletup-letup tatkala media mengabarkan kasus Sutiyoso, dan kebangsaan yang terkoyak tatkala media secara gamblang menginformasikan kasus Alas Tlogo.

Kasus Sutiyoso

Sekarang mari kita lihat kasus Sutiyoso. Ketika Gubernur DKI Jakarta ini didatangi secara paksa oleh dua polisi Federal Australia di Sydney, apalagi Sutiyoso menceritakan dengan emosional, maka rasa kebangsaan kita menimbulkan kohesi untuk menjaga prestise bangsa. Bukan cuma Sutiyoso yang dilecehkan, kita merasa juga dilecehkan. Tiba-tiba Australia menjadi ancaman dan kita bersama-sama bereaksi, baik lewat pernyataan-pernyataan, unjuk rasa, maupun tindakan.

Reaksi itu bisa dimaklumi karena rasa kebangsaan itu ibarat doktrin yang menyatakan bahwa bangsa sendiri harus dominan atau tertinggi di antara bangsa-bangsa lain, dan memang harus bertindak agresif. Atas dasar itu, ketika ada bangsa lain bermaksud melecehkan, reaksi keras segera muncul. Pelecehan adalah tindakan yang menekan dominasi, sekaligus merendahkan bangsa ini. Agresivitas yang muncul patut dimaklumi.

Permakluman itu juga didasarkan fakta bahwa bangsa kita nyaris tak mampu mencapai yang tertinggi di antara bangsa lain. Dalam bidang olahraga, misalnya, prestasi sepak bola tidak pernah membanggakan. Tadinya kita bisa berharap dari bulu tangkis, namun ternyata juga belum mampu mengangkat prestise bangsa. Apalagi di bidang kehidupan lain, acap kali banyak hal menurunkan prestise bangsa.

Kita ambil contoh kasus korupsi, di mana laporan dari Transparency International 2007 menunjukkan tingkat korupsi di lembaga peradilan di Indonesia sangat tinggi (Media Indonesia, 2 Juni). Lantaran prestasi buruk di mata internasional, maka manakala ada kesempatan untuk menunjukkan dominasi bangsa, seketika agresivitas itu muncul. Coba lihat, kita begitu cepat bereaksi kepada Malaysia pada kasus Ambalat, atau kepada Singapura lantaran kasus pasir, dan tentu Australia lantaran kasus Sutiyoso.

Namun, reaksi kita terkadang emosional dan lebih mengedepankan hati panas ketimbang kepala dingin. Kita ingin menunjukkan prestise bangsa dengan cara keliru. Kita berada pada jalan semu untuk menunjukkan keunggulan bangsa ini.

Kasus Alas Tlogo

Secara kebetulan ketika rasa kebangsaan tengah meletup-letup dipicu kasus Sutiyoso, tiba-tiba kita dikejutkan oleh tragedi penembakan warga Alas Tlogo. Dalam kasus Alas Tlogo ini rasa kebangsaan terasa dikoyak-koyak. Makna bangsa telah hilang. Sejumlah anggota Marinir TNI-AL yang menempatkan warga Alas Tlogo sebagai ‘musuh’ menjadikan konsep kebersamaan telah meluntur.

Dari aspek kebangsaan, para tentara itu telah gagal menyalurkan jingoisme mereka. Jingoisme adalah suatu sikap dan semangat berkobar-kobar untuk berperang melawan bangsa lain. Coba perhatikan, jingoisme sejati adalah melawan bangsa lain. Tetapi karena tidak pernah berkesempatan melawan bangsa lain, maka bangsa sendiri dilawannya.

Agar tega melawan bangsa sendiri, maka konsep kebersamaan tadi disingkirkan terlebih dahulu. Bagi mereka, warga Alas Tlogo adalah the other atau sebagai liyan. Cara paling mudah untuk menempatkan si liyan itu adalah menggunakan konflik.

Sebagaimana diberitakan, TNI-AL dan warga Alas Tlogo telah lama konflik berebut tanah. Tentara menempatkan diri sebagai pihak paling punya hak atas tanah itu, maka warga sebagai liyan dianggap ingin merebutnya. Sehingga muncullah rasa tega untuk menumpas warga.

Begitu pun dalam hal patriotisme, tentara telah gagal menunjukkan sikap patriot itu. Kegagalan itu ditunjukkan oleh penyimpangan atas sikap patriotisme dimaksud. Filosofi patriotisme sejati adalah solider secara bertanggung jawab atas seluruh bangsa. TNI seharusnya mengedepankan solidaritas, yaitu semangat memedulikan sesama manusia dan semangat untuk menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

Dari dua kasus itu saja (Sutiyoso dan Alas Tlogo) bisa ditarik sebuah benang merah, yaitu kita lalai menumbuhkan patriotisme (sejati). Secara harfiah patriotisme itu bisa diartikan cinta tanah air. Namun, bila ditarik lebih luas, patriotisme sejati memiliki beberapa ciri. Pertama, solider secara bertanggung jawab atas seluruh bangsa. Kedua, mau dan mampu melihat kekuatan bangsa sendiri serta daya-daya yang bisa merusak diri sendiri maupun bangsa lain. Ketiga, bermodalkan nilai-nilai budaya dan rohani bangsa, berjuang di masa kini menuju cita-cita yang dipancangkan untuk masa depan. Keempat, memiliki identitas diri. Kelima, bersikap terbuka.

Inilah krisis kebangsaan. Bukan sekadar terkoyak oleh satu-dua kasus, melainkan telah kehilangan ciri cinta tanah air itu. Akibatnya kita lebih cinta diri sendiri atau kelompok.

—————————————-
Sumber: Media Indonesia Online

Makna Pekerjaan Anda

In mendoan anget on Mei 30, 2007 at 3:28 pm

Dari Hardiyanto:

Beberapa waktu yang lalu saya memberikan pelatihan mengenai sikap kerja disebuah hotel berbintang lima di Singapura. Salah satu peserta pelatihan adalah Pak Lim, seorang pria berusia 60 tahunan yang bekerja di hotel tersebut. Bagi saya pekerjaan sehari-hari Pak Lim sangatlah monoton dan membosankan. Setiap hari, dengan membawa sebuah daftar, dia mengecek engsel pintu setiap kamar hotel.

Saya akan menceritakan sedikit bagaimana tugas Pak Lim sebenarnya.
Pak Lim memulai rangkaian tugasnya dengan mengecek engsel pintu pintu kamar 1001 dan memastikan bahwa engsel dan fungsi kunci pintu berfungsi dengan baik. Pengecekan yang dilakukannya bukanlah pengecekan “seadanya”, namun pengecekan yang saksama di setiap engsel dan memastikan bahwa setiap pintu bisa dibuka-tutup tanpa masalah.
Untuk mengecek satu pintu saja, Pak Lim berulang kali membuka dan menutup pintu tersebut hanya untuk memastikan bahwa semuanya berfungsi dengan baik. Barulah setelah puas, dia memberi paraf pada daftar yang dibawanya dan mengecek pintu kamar berikutnya, kamar 1002, dia melakukan hal yang sama, begitu seterusnya. Dalam sehari, Pak Lim bisa mengecek pintu 30 kamar.
Anda tentu bertanya, berapa hari waktu yang dibutuhkan Pak Lim untuk mengecek pintu semua kamar di hotel itu. kurang lebih sebulan! Tidak mengejutkan sebenarnya karena hotel berbintang lima ini memiliki sekitar 600 kamar.

Tugas pengecekan Pak Lim dapat diibaratkan sebagai lingkaran. setelahpintu kamar terakhir selesai dicek, Pak Lim akan kembali lagi ke kamar pertama, kamar 1001. Rangkaian tugas ini terus berjalan seperti itu, dari hari ke hari, bulan ke bulan, tahun demi tahun.
Pekerjaan semacam ini jelas merupakan pekerjaan monoton, tanpa variasi dan membosankan! saya sendiri tidak habis pikir, bagaimana mungkin Pak Lim masih bisa cermat dan teliti mengecek setiap engsel pintu dalam menjalani tugas yang membosankan ini. saya membayangkan, seandainya saya sendiri yang diminta melakukan hal semacam ini, mungkin saya akan memeriksa setiap engsel sekedarnya saja.

Karena sangat penasaran, suatu hari saya bertanya kepada Pak Lim apa yang sebenarnya membuatnya begitu tekun menjalani pekerjaan rutin itu. Jawabannya sungguh diluar dugaan saya.

Dia mengatakan,”James, dari pertanyaan Anda, saya bisa menyimpulkan bahwa Anda tidak mengerti pekerjaan saya. Pekerjaan saya bukan sekedar memeriksa engsel, tetapi lebih dari itu. Begini. Tamu-tamu kami di hotel berbintang lima ini jelas bukan orang sembarangan. mereka biasanya adalah Kepala Keluarga, CEO sebuah perusahaan, Direktur atau Manajer Senior. Dan saya tahu mereka semua jelas bertanggung jawab atas kehidupan keluarga mereka, dan juga banyak karyawan dibawahnya yang jumlahnya mungkin 20 orang, 100 atau bahkan ribuan orang.

“Nah, kalau sesuatu yang buruk terjadi di hotel ini, misalnya saja kebakaran dan pintu tidak bisa dibuka karena engselnya rusak, mereka bisa meninggal didalam kamar. akibatnya bisa Anda bayangkan, pasti sangat mengerikan, bukan hanya untuk reputasi hotel ini, tetapi juga bagi keluarga mereka, karyawan yang berada dibawah tanggungan mereka. Keluarga mereka akan kehilangan sosok Kepala Keluarga yang menafkahi mereka dan karyawan mereka akan kehilangan sorang pimpinan senior yang bisa jadi mengganggu kelancaran perusahaan. Sekarang Anda mungkin dapat mengerti bahwa tugas saya bukan sekedar memeriksa engsel, tapi menyelamatkan Kepala Keluarga dan Pimpinan unit bisnis sebuah perusahaan. Jadi, jangan meremehkan tugas saya.”

Saya benar-benar terperangah mendengar penjelasan panjang lebar Pak Lim. Dari situlah saya mengerti bahwa jika seseorang tahu benar makna dibalik pekerjaannya, dia akan melakukan pekerjaannya dengan bangga, dengan senang hati, dengan penuh tanggung jawab. Sebaliknya, seandainya saja Pak Lim tidak mengerti makna pekerjaannya, dia akan mengatakan bahwa tugasnya hanya sebagai tukang periksa engsel.

Sekarang, coba tanyakan pada diri sendiri. Apakah anda tahu benar makna dibalik pekerjaan Anda? Katakanlah Anda adalah seorang Staff, Kepala Bagian, Manajer unit bisnis, Kadiv, apakah Anda tahu makna dibalik pekerjaan anda sebagai seorang Staff, Kepala Bagian, Manajer atau Kadiv ?

Ingatlah bahwa jika seorang tahu makna pekerjaannya, dia pasti akan melakukan pekerjaan dengan rasa bangga, dan yang terpenting, dia akan membuat pekerjaannya penuh arti, bagi dirinya, bagi keluarganya dan bagi perusahaannya.