alumni smansa purwokerto 1993

Arsip untuk Juni, 2008

In Memoriam: Bapak Yesse Sihite

In mendoan anget on Juni 25, 2008 at 9:55 am

BERITA DUKA.. TELAH MENINGAL DUNIA BAPAK YESSE SIHITE, GURU KIMIA SMA1 PWT. JENAZAH SEKARANG MASIH DI SUMATERA. MOHON DOANYA, SEMOGA ALMARHUM MENDAPATKAN TEMPAT YANG BAIK DISISINYA. DAN KELUARGA YANG DITINGGALKANYA MENDAPAT KESABARAN DAN KETABAHAN. AMIN..

Juned Bione’93 :
Kami sekeluarga turut berduka cita.
Semoga arwahnya di terima di sisiNya dan di beri ketabahan dan kesabaran untuk keluarga yg di tinggalkan.
Aku tau di cekel nang Pak Sihite, anu bar mangan kang nggone Paidi  :-(

Gamal Muaddi:
Innalillahi wainnalillahi roji’un.

Yogi Hartono Fis5/93:
Innalillahi wainnalillahi roji’un
semoga arwah dan amal kebaikannya diterima disisi-Nya
keluarga yag ditinggalkannya diberi ketabahan dalam menghadapi cobaan ini.
Gak menyangka, memang hidup mati dah ada yang nentuin garisnya, aku terakhir ketemu bbrpa bulan yll saat ikut kumpulan untuk rencana ultah emas sempet ngobrol dikit, tp ternyata Tuhan berkehendak lain…
Selamat jalan pak HITE…

Tri Retno P. Foriester:
ya ampuuun, padahal baru juni tanggal 3 kemaren aku jumpa beliau di SMANSA, dan sempet ngobrol dikit dengannya…ternyata itu perjumpaan kami yg terakhir.
RIP pak sihite, smoga yg ditinggalkan tabah adanya…amiiin!

Iwan Setiawan:
Turut berduka cita,
Aku masih ingat ketika ditegur setelah nabuh mercon di wc…..
waktu diajar kimia tapi ora mudeng-mudeng……
banyak kenangan bersama pak Yese Sihite….
Selamat jalan wahai pahlawan tanpa tanda jasa…..

Sasongko:
Inna lillalhi wa inna lillahi rojium
Inyong ora nduwe kenangan khusus siih karo pak hite, soale ora tau diajar lan ora tau duwe masalah kr pak hite
Tapi bagaimanapun dekne adalah guru smansa….
Selamat jalan pak hite… Semoga amal dan ibadah pak hite di terima di sisi Nya.

Diah Yulianti:
Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.
Turut berduka cita atas meninggalnay Pak Hite. Aduh, ganu nyong tahu minggat kang praktikum soale ora bisa, hla ora mudeng. Ning ko ya Pak Hite malah salah satu guru sing aku kelingan terus.

Jundi Rakhmanto:
Innalillahi wa inna ilaihi rojiun…
Selamat jalan guru pembimbing karya tulisku…
Semoga arwahnya diterima disisi-Nya…
Amin….

Sigit ‘93:
Turut berduka cita..
Semoga semua amal baik almarhum diterima Tuhan YME dan keluarga yang
ditinggalkan diberi ketabahan.
Amien.

Yudhistira Setiawan:
Innalillahi wa inna ilaihi rojiun…selamat jalan Pak Hite…ganu beliau sempet dadi tanggaku se-gang nang Perum Berkoh…
Meskipun nilai kimiaku dong diajar Pak Hite mung oleih 6…tapi bener jarene Diah….guru sing siji kiye emang salah satu guru sing gampang kelingan…selain Pak Arif Priyadi, Pak Ook dan Pak Darsim…hehehehehe…

Anna Widi:
inna lillahi wa inna lillahi rojiun….
smg arwah dan kebaikannya d terima d sisi-Nya.. amin…

Robbie Yoga P:
Turut berduka cita juga…
Semoga almarhum mendapatkan yg terbaik di sisi-Nya… Amiin.
kemutan ganu pernah les kimia karo Pak Hite waktu kelas 1.

Hanin & Hida
Selamat jalan Pak Sihite…
Semua tahu jasamu, semua tahu galakmu…

Stay Hungry. Stay Foolish

In mendoan anget on Juni 2, 2008 at 9:39 am

Pidato Steve Job di Acara Wisuda Stanford University 

Saya merasa bangga di tengah-tengah Anda sekarang,  yang akan segera lulus dari salah satu universitas  terbaik di dunia. Saya tidak pernah selesai kuliah.  Sejujurnya,baru saat inilah saya merasakan suasana  wisuda. Hari ini saya akan menyampaikan tiga cerita  pengalaman
hidup saya. Ya, tidak perlu banyak. Cukup  tiga.

Cerita Pertama: Menghubungkan Titik-Titik 

Saya drop out (DO) dari Reed College setelah semester  pertama, namun saya tetap berkutat di situ sampai 18  bulan kemudian, sebelum betul-betul putus kuliah. 

Mengapa saya DO? 

Kisahnya dimulai sebelum saya lahir. Ibu kandung saya  adalah mahasiswi belia yang hamil karena “kecelakaan”  dan memberikan saya kepada seseorang untuk diadopsi. 

Dia bertekad bahwa saya harus diadopsi oleh keluarga  sarjana, maka saya pun diperjanjikan untuk dipungut  anak semenjak lahir oleh seorang pengacara dan  istrinya.
Sialnya, begitu saya lahir, tiba-tiba mereka  berubah pikiran karena ingin bayi perempuan. Maka  orang tua saya sekarang, yang ada di daftar urut  berikutnya, mendapatkan telepon larut malam dari  seseorang:
“kami punya bayi laki-laki yang batal  dipungut; apakah Anda berminat?” Mereka menjawab:  “Tentu saja.” Ibu kandung saya lalu mengetahui bahwa  ibu angkat saya tidak pernah lulus kuliah dan ayah  angkat saya bahkan tidak tamat SMA. Dia menolak  menandatangani perjanjian adopsi. Sikapnya baru  melunak beberapa bulan kemudian, setelah orang tua  saya berjanji akan menyekolahkan saya sampai perguruan  tinggi.

Dan, 17 tahun kemudian saya betul-betul kuliah. Namun,  dengan naifnya saya memilih universitas yang hampir  sama mahalnya dengan Stanford, sehingga seluruh  tabungan
orang tua saya- yang hanya pegawai rendahan-  habis untuk biaya kuliah. Setelah enam bulan, saya  tidak melihat manfaatnya. Saya tidak tahu apa yang  harus saya lakukan dalam hidup saya dan bagaimana  kuliah akan membantu saya menemukannya. Saya sudah  menghabiskan
seluruh tabungan yang dikumpulkan orang  tua saya seumur hidup mereka. Maka, saya pun  memutuskan berhenti kuliah, yakin bahwa itu yang  terbaik.
Saat itu rasanya menakutkan, namun sekarang  saya menganggapnya sebagai keputusan terbaik yang  pernah saya ambil. 

Begitu DO, saya langsung berhenti mengambil kelas  wajib yang tidak saya minati dan mulai mengikuti  perkuliahan yang saya sukai.  Masa-masa itu tidak selalu menyenangka n. Saya tidak  punya kamar kos sehingga nebeng tidur di lantai kamar  teman-temansaya. Saya mengembalikan botol Coca-Cola  agar dapat pengembalian 5 sen untuk membeli makanan.  Saya berjalan 7 mil melintasi kota setiap Minggu malam  untuk mendapat makanan enak di biara Hare Krishna. 

Saya menikmatinya. Dan banyak yang saya temui saat itu  karena mengikuti rasa ingin tahu dan intuisi, ternyata  kemudian sangat berharga. Saya beri Anda satu contoh:  Reed College mungkin waktu itu adalah yang terbaik di  AS dalam hal kaligrafi. Di seluruh penjuru kampus,  setiap poster, label, dan petunjuk ditulis tangan  dengan sangat indahnya. Karena sudah DO, saya tidak  harus mengikuti perkuliahan normal. Saya memutuskan  mengikuti
kelas kaligrafi guna mempelajarinya. Saya  belajar jenis-jenis huruf serif dan san serif, membuat  variasi spasi antar kombinasi kata dan kiat membuat  tipografi yang hebat. Semua itu merupakan kombinasi  cita rasa keindahan, sejarah dan seni yang tidak dapat  ditangkap
melalui sains. Sangat menakjubkan. 

Saat itu sama sekali tidak terlihat manfaat kaligrafi  bagi kehidupan saya. Namun sepuluh tahun kemudian,  ketika kami mendisain komputer Macintosh yang pertama,  ilmu itu sangat bermanfaat. Mac adalah komputer  pertama yang bertipografi cantik. Seandainya saya  tidak
DO dan mengambil kelas kaligrafi, Mac tidak akan  memiliki sedemikian banyak huruf yang beragam bentuk  dan proporsinya. Dan karena Windows menjiplak Mac,  maka tidak ada PC yang seperti itu. Andaikata saya  tidak DO, saya tidak berkesempatan mengambil kelas  kaligrafi, dan PC tidak memiliki tipografi yang indah. 

Tentu saja, tidak mungkin merangkai cerita seperti itu  sewaktu saya masih kuliah. Namun, sepuluh tahun  kemudian segala sesuatunya menjadi gamblang. 

Sekali lagi, Anda tidak akan dapat merangkai titik  dengan melihat ke depan; Anda hanya bisa melakukannya  dengan merenung ke belakang. Jadi, Anda harus percaya  bahwa titik-titik Anda bagaimana pun akan terangkai di  masa mendatang. Anda harus percaya dengan intuisi,  takdir, jalan hidup, karma Anda, atau istilah apa pun  lainnya.Pendekatan ini efektif dan membuat banyak  perbedaan dalam kehidupan saya. 

Cerita Kedua Saya: Cinta dan Kehilangan. 

Saya beruntung karena tahu apa yang saya sukai sejak  masih muda. Woz dan saya mengawali Apple di garasi  orang tua saya ketika saya berumur 20 tahun. Kami  bekerja keras dan dalam 10 tahun Apple berkembang dari  hanya kami berdua menjadi perusahaan 2 milyar dolar  dengan 4000 karyawan. Kami baru meluncurkan produk  terbaik kami-Macintosh- satu tahun sebelumnya, dan  saya baru menginjak usia 30. Dan saya dipecat. 

Bagaimana mungkin Anda dipecat oleh perusahaan yang  Anda dirikan? Yah, itulah yang terjadi. Seiring  pertumbuhan Apple, kami merekrut orang yang saya pikir  sangat berkompeten untuk menjalankan perusahaan  bersama saya. Dalam satu tahun pertama,semua berjalan  lancar. Namun, kemudian muncul perbedaan dalam visi  kami
mengenai masa depan dan kami sulit disatukan.  Komisaris ternyata berpihak padanya. Demikianlah, di  usia 30 saya tertendang. Beritanya ada di mana-mana. 

Apa yang menjadi fokus sepanjang masa dewasa saya,  tiba-tiba sirna. Sungguh menyakitkan.  Dalam beberapa bulan kemudian, saya tidak tahu apa  yang harus saya lakukan. Saya merasa telah  mengecewakan banyak wirausahawan generasi sebelumnya  -saya
gagal mengambil kesempatan. Saya bertemu dengan  David Packard dan Bob Noyce dan meminta maaf atas  keterpurukan saya. Saya menjadi tokoh publik yang  gagal, dan bahkan berpikir untuk lari dari Silicon  Valley.

Namun, sedikit demi sedikit semangat timbul  kembali- saya masih menyukai pekerjaan saya. Apa yang  terjadi di Apple sedikit pun tidak mengubah saya. Saya  telah ditolak, namun saya tetap cinta. Maka, saya  putuskan untuk mulai lagi dari awal. 

Waktu itu saya tidak melihatnya, namun belakangan baru  saya sadari bahwa dipecat dari Apple adalah kejadian  terbaik yang menimpa saya. Beban berat sebagai orang  sukses
tergantikan oleh keleluasaan sebagai pemula,  segala sesuatunya lebih tidak jelas. Hal itu  mengantarkan saya pada periode paling kreatif dalam  hidup saya. 

Dalam lima tahun berikutnya, saya mendirikan  perusahaan bernama NeXT, lalu Pixar, dan jatuh cinta  dengan wanita istimewa yang kemudian menjadi istri  saya.Pixar bertumbuh menjadi perusahaan yang  menciptakan film animasi komputer pertama, Toy Story,  dan
sekarang merupakan studio animasi paling sukses di  dunia. Melalui rangkaian peristiwa yang menakjubkan,  Apple membeli NeXT, dan saya kembali lagi ke Apple,  dan teknologi yang kami kembangkan di NeXT menjadi  jantung bagi kebangkitan kembali Apple. Dan, Laurene  dan saya memiliki keluarga yang luar biasa. 

Saya yakin takdir di atas tidak terjadi bila saya  tidak dipecat dari Apple. Obatnya memang pahit, namun  sebagai pasien saya memerlukannya. Kadangkala  kehidupan menimpakan batu ke kepala Anda. Jangan  kehilangan kepercayaan. Saya yakin bahwa satu-satunya  yang
membuat saya terus berusaha adalah karena saya  menyukai apa yang saya lakukan. Anda harus menemukan  apa yang Anda sukai. Itu berlaku baik untuk pekerjaan  maupun pasangan hidup Anda. Pekerjaan Anda akan  menghabiskan sebagian besar hidup Anda, dan kepuasan  sejati hanya dapat diraih dengan mengerjakan sesuatu  yang hebat. Dan Anda hanya bisa hebat bila mengerjakan  apa yang Anda sukai. Bila Anda belum menemukannya,  teruslah mencari. Jangan menyerah. Hati Anda akan  mengatakan
bila Anda telah menemukannya. Sebagaimana  halnya dengan hubungan hebat lainnya, semakin lama-  semakin mesra Anda dengannya. Jadi, teruslah mencari  sampai ketemu. Jangan berhenti. 

Cerita Ketiga Saya: Kematian 

Ketika saya berumur 17, saya membaca ungkapan yang  kurang lebih berbunyi: “Bila kamu menjalani hidup  seolah-olah hari itu adalah hari terakhirmu, maka  suatu hari kamu akan benar.” Ungkapan itu membekas  dalam diri saya, dan semenjak saat itu, selama 33  tahun
terakhir, saya selalu melihat ke cermin setiap  pagi dan bertanya kepada diri sendiri: “Bila ini  adalah hari terakhir saya, apakah saya tetap melakukan  apa yang akan saya lakukan hari ini?” Bila jawabannya  selalu “tidak” dalam beberapa hari berturut-turut,  saya tahu saya harus berubah. 

Mengingat bahwa saya akan segera mati adalah kiat  penting yang saya temukan untuk membantu membuat  keputusan besar. Karena hampir segala sesuatu-semua  harapan
eksternal, kebanggaan, takut malu atau  gagal-tidak lagi bermanfaat saat menghadapi kematian.  Hanya yang hakiki yang tetap ada. Mengingat kematian  adalah cara terbaik yang saya tahu untuk menghindari  jebakan berpikir bahwa Anda akan kehilangan sesuatu. 

Anda tidak memiliki apa-apa. Sama sekali tidak ada  alasan untuk tidak mengikuti kata hati Anda.  Sekitar setahun yang lalu saya didiagnosis mengidap  kanker. Saya menjalani scan pukul 7:30 pagi dan  hasilnya jelas menunjukkan saya memiliki tumor  pankreas. Saya bahkan tidak tahu apa itu pankreas.  Para dokter mengatakan kepada saya bahwa hampir pasti  jenisnya adalah yang tidak dapat diobati. Harapan  hidup saya tidak lebih dari 3-6 bulan. Dokter  menyarankan saya pulang ke rumah dan membereskan  segala sesuatunya, yang merupakan sinyal dokter agar  saya bersiap mati. Artinya, Anda harus menyampaikan  kepada
anak Anda dalam beberapa menit segala hal yang  Anda rencanakan dalam sepuluh tahun mendatang.  Artinya, memastikan bahwa segalanya diatur agar mudah  bagi keluarga Anda. Artinya, Anda harus mengucapkan  selamat tinggal. 

Sepanjang hari itu saya menjalani hidup berdasarkan  diagnosis tersebut. Malam harinya, mereka memasukkan  endoskopi ke tenggorokan, lalu ke perut dan lambung,  memasukkan
jarum ke pankreas saya dan mengambil  beberapa sel tumor. Saya dibius, namun istri saya,  yang ada di sana, mengatakan bahwa ketika melihat  selnya di bawah mikroskop, para dokter menangis  mengetahui bahwa jenisnya adalah kanker pankreas yang  sangat jarang, namun bisa diatasi dengan operasi. Saya  dioperasi dan sehat sampai sekarang. 

Itu adalah rekor terdekat saya dengan kematian dan  berharap terus begitu hingga beberapa dekade lagi.  Setelah melalui pengalaman tersebut, sekarang saya  bisa katakan dengan yakin kepada Anda bahwa menurut  konsep pikiran, kematian adalah hal yang berguna:  Tidak
ada orang yang ingin mati. Bahkan orang yang  ingin masuk surga pun tidak ingin mati dulu untuk  mencapainya. Namun, kematian pasti menghampiri kita.  Tidak ada yang bisa mengelak. Dan, memang harus  demikian, karena kematian adalah buah terbaik dari  kehidupan. Kematian membuat hidup berputar. Dengannya  maka yang tua menyingkir untuk digantikan yang muda.  Maaf bila terlalu dramatis menyampaikannya, namun  memang begitu. 

Waktu Anda terbatas, jadi jangan sia-siakan dengan  menjalani hidup orang lain. Jangan terperangkap dengan  dogma-yaitu hidup bersandar pada hasil pemikiran orang  lain.Jangan biarkan omongan orang menulikan Anda  sehingga tidak mendengar kata hati Anda. Dan yang  terpenting, miliki keberanian untuk mengikuti kata  hati dan intuisi Anda, maka Anda pun akan sampai pada  apa yang Anda inginkan. Semua hal lainnya hanya nomor  dua.

Ketika saya masih muda, ada satu penerbitan hebat yang  bernama “The Whole Earth Catalog”, yang menjadi salah  satu buku pintar generasi saya. Buku itu diciptakan  oleh
seorang bernama Stewart Brand yang tinggal tidak  jauh dari sini di Menlo Park, dan dia membuatnya  sedemikian menarik dengan sentuhan puitisnya. Waktu  itu akhir 1960-an, sebelum era komputer dan desktop  publishing, jadi semuanya dibuat dengan mesin tik,  gunting, dan kamera polaroid. Mungkin seperti Google  dalam bentuk kertas, 35 tahun sebelum kelahiran  Google: isinya padat dengan tips-tips ideal dan  ungkapan-ungkapan
hebat. 

Stewart dan timnya sempat menerbitkan beberapa edisi  “The Whole Earth Catalog”, dan ketika mencapai titik  ajalnya, mereka membuat edisi terakhir. Saat itu  pertengahan
1970-an dan saya masih seusia Anda. Di  sampul belakang edisi terakhir itu ada satu foto jalan  pedesaan di pagi hari, jenis yang mungkin Anda lalui  jika suka bertualang. Di bawahnya ada kata-kata: “Stay  Hungry. Stay Foolish.” (Jangan Pernah Puas. Selalu  Merasa Bodoh). Itulah pesan perpisahan yang dibubuhi  tanda tangan mereka.

Stay Hungry. Stay Foolish. Saya  selalu mengharapkan diri saya begitu. Dan sekarang,  karena Anda akan lulus untuk memulai kehidupan baru,  saya harapkan Anda juga begitu. Stay Hungry. Stay Foolish.

We are not a human being and having a spiritual expirience;  we are a spiritual being and having a human expirience .

(dari Boim Deddy)